11 Jul 2017

Ular Batik Di Satu Ramadhan




Pondok kami dahulunya memang hutan belantara yang tidak dijamah orang dengan berbagai kisah misteri selalu menyeramkan,  namun Ayahku sang pemberani dan pindah dari kota ke desa.

Pada awal mendirikan pondok yang jauh dari perumahan penduduk ular sering singgah lewat pintu saat terbuka atau entah bagaimana mereka kadang lewat saja saat kami berbincang bersama keluarga.

Kini setelah hampir empat puluh tahun segalanya telah berbeda, perumahan padat, sekolah, warung dan cafe, restoran dan penginapan  bertebaran termasuk perguruan tinggi swasta yang mulai dirintis untuk kembali ditempati setelah hampir dua puluh tahunan jarang ditempati.

Pada awal Ramadhan 1438 hijriah saat waktu dhuha tiba dan hamba hendak menuju ruang depan untuk mengambil mukena melintas seekor ular berwana hitam kombinasi kuning mirip batik.

Memanggil dua orang puteri untuk mengusir dan menggiring ular keluar rumah dengan perasaan yang tidak nyaman,  Kholillah menggunakan sapu injuk untuk menahan sang ular agar tidak masuk kamar sedang Roidah menggiring menuju lapang.

Misteri ular batik di satu ramadhan mengganggu ingatan hamba tentang berbagai hal dimasa lalu.

Kepalanya berbentuk segitiga dengan belang – belang kuning seperti kunci membuka tabir masa lalu hamba yang dhaif dan dzalim pada diri sendiri.

Sepanjang ramadhan liukan – liukan ular mengingatkan tentang dosa pada ibunda dengan ketidak patuhan dan pembangkangan yang sering dilakukan setiap hari,  mengerikan mengingat dosa dan jijik juga seram menyaksikan gerakan ular yang akan dimasukkan botol oleh salah seorang tetangga yang biasa menjinakkan ular.

Dosa itu menjijikkan dan menyeramkan sayang hamba telat menyadarinya sehingga dahulu berkubang pembangkangan dan merasa ibunda selalu dalam posisi bersalah.

Hamba berjuang mengusir tentang ingatan ular yang hanya berdiameter dua setengah sentimeter dan panjang sekitaran empat puluh senti meter.

Taubat menghantar sayyidul  istighfar di setiap malam . . .  sepertinya tidak akan cukup mengkompensasi dosa pada ibunda, namun hanya itu yang bisa hamba lakukan.

Pada dua puluh dua ramadhan  hamba persiapkan diri qiyamul lail sebelum shahur dan melepaskan ingatan – ingatan tentang ular batik yang mengganggu sepanjang bulan suci hingga memanjatkan doa   dengan jeritan pada Nya  :


Ya Allah,  
bukalah bagiku dibulan ini  pintu – pintu anugerah Mu,  
turunkanlah kepadaku di bulan ini berkah – berkah -  Mu,  
berikanlah taufik kepadaku di bulan ini
untuk mencapai keridhaan Mu,   

dan tempatkanlah aku di bulan ini di tengah – tengah surga Mu,  
Wahai  Pengabul Permintaan orang – orang yang ditimpa kesulitan.


 [ agar Allah memudahkan pada saat sakaratul maut,  dan juga meringankan ketika menghadapi Malaikat Munkar dan Nakir serta mengukuhkn dengan perkataan yang teguh ]  ***


***doa malam ke duapuluh dua ramadhan disadur dari :

  
Ciburial.   Rabu 11 Syawwal 1438 H / 5 Juli 2017 M

== Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba tulis : Ceritera Ramadhanku




Posting Komentar