13 Jun 2017

Cara Berfikir Yang Jungkir Balik !



QS. al Kahfi ( 18 )  :  110




Muslimah . . .

Salam hari Selasa yang #Mubarokan
Perasaan Bunda magh berat sekali  untuk ditingkalkan bulan oleh  Ramadan yang penuh berkah dan sisanya  tinggal sekitaran 12 atau 11 hari lagi ( mudah – mudahan tidak ada perselisihan waktu lebaran,  mendingan dan bagus sama – sama 1 Syawwalnya ). Lebarannya berjamaah sekampung senegara.

Namun sedikit kita meninjau ulang apa yang sering diungkapkan Pak Kiyai Muchtar Adam tentang posisi shaum kita dalam pandangan para shalihin (orang – orang yang selalu beramal sholeh),  yaitu :

1.       Shaum Akhli Syare’at
2.       Shaum Akhli Tharekat
3.       Shaum Akhli Hakekat

adapun sebatas kemampuan Bunda menyampaikan tentang uraiannya adalah :

Shaum Akhli Syare’at
Adalah shaumnya hamba Allah pada level sebatas  menahan lapar,  haus dan sex mulai terbit Fajar hingga terbenam Matahari.
Sudah keq gitu saja, tidak memberikan makna lebih titik saja.


Shaum Akhli Tharekat
Shaumnya orang – orang yang menggendalikan seluruh panca – inderanya dengan lebih termenej baik di masa – masa bulan Ramadan dan khususnya diluar bulan Ramadhan inilah mereka yang memberhasilkan diri dari pengkaderan selama Ramadhan berbuah dan sukses, sehingga pasti diwisuda sama Gusti Allah dengan mendapat SurgaNya kelak di Yaumil Akhir.


Shaum Akhli Hakekat
Level yang paling tinggi inilah tantangan buat kita semua,  yaitu menahan diri dari  FIKIRAN – FIKIRAN KEJI  atau membangun pola fikir yang benar dalam realitas kehidupan.


Penting kita maknai,  cara berfikir pemerintahan kita  tentang bulan Ramadan.
Mereka berfikir kalau sudah datang Ramadan sebulan sebelumnya ( bulan Sya’ban) dengan tersistimatis semua harga kebutuhan harian dinaik – naikan  dengan berbagai alasan. 

Polanya setiap tahun oleh Ibu – ibu sudah ketebak saja,  masa setiap munggahan (satu hari sebelum Ramadan)  munggahan harga ayam dan daging sapi suka lewat dari biasanya, pasti naik.  

Konon harga jengkol mencapai Rp 80.000  bawang merah, cabe sama lombok rawit gila – gilaan naiknya di tingkat pedagang.  Bukan ditingkat petani . . .


Ramadan Kareem


Sekarang 18 Ramadan bertepatan dengan 13 Juni 2017  terdetiksi oleh kita Departemen Perdagangan di Jakarta menyelenggarakan Pasar Murah di beberapa titik hingga ibu – ibu berebut untuk antri membeli berbagai kebutuhan sembako.

Kenapa Departemen Perdagangan mengadakan pasar murah secara insidental kaya begini  dalam rangka Ramadan dan menghadapi lebaran,  coba atuhlah harga – harga kebutuhan pokok mah semua wilayah di murahkan 50 % dari harga biasanya.

Memang ada teori abal – abal yang terus di pakai dan dipakai untuk menghadapi setiap bulan Ramadan 

yang Bunda inget cara berfikirnya seperti ini :

Jika kebutuhan meningkat menjadikan barang langka dan ini penyebab meningkat dan melambungnya harga – harga ;  katanya sih ini hukum pasar . . . .

Kita magh ibu – ibu tidak pakai teori pasar,  tidak faham dan ribet.  Cuma pakai logika ala ibu – ibu.
Kita itu melaksanakan ibadah Ramadan bukan satu tahun atau dua tahun ini  saja kalau di hitung dari Indonesia merdeka hampir 72 tahun melaksanakan ibadah shaum Ramadan, dan setiap tahun harga kebutuhan naik karena pakai hukum pasar itu.

Coba kalau pakai teori hukum kehidupan seperti yang bisa ibu – ibu fikirkan bersama – sama.
Para pedagang itu sudah diuntungkan oleh semua penduduk Indonesia itu hampir 11 (sebelas) bulan penuh apakah beras, minyak goreng, tepung terigu, garam, gas dan mentega juga susu,  belum buah – buah dan lain sebagainya.

Apakah selama sebelas bulan itu mereka rugi . . . Bunda belum pernah demo tidak membeli beras dalam sebulan saja . . . . tidaklah . . .  kami tetap satu bulan membeli 25 kg untuk satu keluarga,  membeli gas enam  hingga 8  tabung melon dalam sebulan.

Apakah mereka rugi setiap bulannya selama sebelas bulan baik di tingkat pedagang eceran maupun partai besar,  rasa – rasanya para pedagang itu sudah sangat diuntungkan oleh kami yang setia membeli dengan cash ndak pernah ngutang.

Satu poin bahwa kemudian seharusnya bulan Ramadan di murahkan harga – harga bahan itu karena perkiraan logis tadi dengan berfikir cara ibu – ibu lugu. 

Jadi karena yang terfikir oleh kebanyakan dari para pedagang ( pemerintahlah yang harusnya jadi pemandu kebijakan ) khususnya bulan Ramadan semua harga dinaikkan sebab banyak yang butuh,  mereka itu   tidak berfikir kebalikannya karena banyak yang membutuhkan dan ini bulan Ramadan maka harga yang afdhal – harga terbaik -  di turunkan 50%  karena  mereka sudah mendapat untung dari 11 bulan selain Ramadan.   


Begitu sebaiknya dalam menyelenggarakan negara sesuai selera ibu – ibu lugu. Jika kita ingin dan menuju shaumnya akhli hakekat.


Lanjut satu lagi tentang mafia garam di Indonesia . . . .  yang lagi nge ‘hits’ dan mengemuka,
Bunda jenis ibu – ibu yang kurang trampil menggali data akan tetapi sering mendapat informasi terpercaya,  diantaranya bahwa Bapak Fadel Muhammad mantan Menteri Perikanan dan Kelautan salah satu penyebab diberhentikannya karena beliau mengetahui dan akan membongkar mafia garam di Indonesia dan beliau sempat mengatakan bahwa negeri ini memiliki lautan terluas masa garam saja harus impor,  ekh malahan sekarang kita kelangkaan lagi garam karena mafia mengimpor kebutuhan garam kita keluar negeri,  untuk skala rumah tangga baiklah kita mengurangi garam akan tetapi garam bukan hanya sekedar di konsumsi untuk skala industri garam juga sangat dibutuhkan dan terkait hajat orang banyak.


Nach . . . Fadhel Muhammad sudah beberapa tahun yang lalu di berhentikannya,  memang beliau tidak berulah dan menerima dengan apa adanya sehingga aman.

Lalu bagaimana dengan garam yang lagi mengalami kelangkaan, ya . . . sementara ini tidak apa – apa tidak bakalan terasa,  akan tetapi kembali kepada    pola fikir bangsa ini  kalau ada orang baik jadi Menteri dan berniat baik juga lurus demi kemashlahan banyak orang seperti Fadhel Muhammad ini sebaiknya disingkirkan karena akan mengganggu kinerja dan sistem yang terbangun.

Sehingga memang kita semua penting mengevaluasi diri dengan momen Ramadan ini dengan meningkatkan derajat shaum kita kepada tingkat shaum ahkli Hakikat membangun  pola fikir yang lurus dan baik adalah merupakan realisasi dari shaum akhli  hakikat untuk mengucurkan Rahmatan lil ‘Alamiin.


“Katakanlah :  “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu yang di wahyukan padaku :  “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.”  Barang siapa mengharap berjumpa dengan Tuhannya,   maka hendaklah ia mengejakan amal yang shaleh  dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” 


Bunda mungkin keliru juga atas pola pikir ini, tolong beritahu . . .


Ciburial Bandung – Utara 18 Ramadan 1438 H




Posting Komentar