1 Feb 2017

Quality Nostalgia Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Haru Biru Bahagia Bersama (picture : credit Nawari Ismail)


Suasana bathin ketika itu (1981 – 1985) terasa ada sekat  dan  benteng yang asing sesungguhnya  secara hakekat  tidaklah  penting akan tetapi sangat berpengaruh kuat dalam relasi pertemanan.

Benteng asing itu dipengaruhi oleh suasana  budaya menarik massa tiga organisasi kemahasiswaan yang sangat potensial di Indonesia khususnya pada kampus – kampus negeri  termasuk di dalamnya kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sangat di fahami oleh mahasiswa angkatan 1981 – 1985 di sana di kampus kami ada organisasi kemahasiswaan yang sangat dikenal HMI dan PMII plus IMM,  ketiganya bergerak dinamis menghimpun anggota.

Saya magh sama sekali tidak faham ya . . . ketika awal meginjakkan kaki di kampus karena di beberapa titik ada meja – meja yang menjajakan diktat untuk bimbingan tes dan semacam promosi serta  pengenalan atau mungkin semacam masa orientasi jika muncul saat ini.

Antara ingat dan tidak kayaknya saya masuk bimbingan tes  di IMM atau mungkin PMII  meja HMI entah ada di mana karena di beberapa lokasi PMII cukup bertebaran,   saya merasa mantan siswa Aliyah yang paling bloon ;  dari Padang – Panjang Sumatera Barat masuk ke Yogyakarta tanpa bekal pemahaman tentang situasi kampus yang bergelora.
Memang pada akhirnya saya salut pada Mbak Tiwi ( haloo Mbak Tiwi tunjukkan dirimu . . . . ) Nawari Ismail, Tarib Mauleka, Amin Loli Husein Manurung Sarbini Khairo yang berjibaku tarik ulur menghimpun massa ibarat dalam  kancah peperangan yang dahsyat siapa sigap dan iapun dapat !!! 

Oiya . . .  terlupakan, 
Salut berat terhadap mahasiswa yang bernama Muhammad Eko Slamet Riyadi (Almarhum) betapa gigih dan uletnya dia melaksanakan kebijakan ketua Kohati untuk membidik sang mahasiswa baru hingga kemudian dilantik menjadi anggota Kohati kemudian mengikuti program Batra.

Dalam benak saya ketika itu kata BATRA saja seperti makhluk dari planet mana yang tidak pernah di kunjungi,  bahkan saya berfikir bahwa Batra itu bukan singkatan hanya nama rekayasa mahasiswa alay jaman itu.

Yang saya ingat saat ini bukan materi BATRA_nya akan tetapi cape dan menguras tenaga, mengantuk berat karena langka istirahat.
Suasana bathin kali ini setelah hampir sekitar 37 tahun latar belakang organisasi masing – masing telah tersingkirkan oleh nilai kemanusiaan yang paling hakiki ajaib saja :

-         Saling merindu mengenang masa lalu yang pahit dan getir

-         Saling bertutur keluarga dan kegiatan atau profesi

-         Saling melempar senyum dan kata – kata persahabatan; 

Jika kemudian ada kalimat HMI, PMII dan IMM kekuatannya telah memudar dengan kondisi fisik kami  yang semakin menua,  cara berfikir yang berubah tidaklah penting sektarian dan kecerdasan spiritual yang tampak nyata di wajah – wajah ceria mereka yang pada umumnya ahli ibadah siap – siap menjemput Malaikat Maut agar datang dengan salam keselamatan.

Meskipun HMI, PMII dan IMM tidak membusuk biarkan cara berfikir kuno dari kami semua dibuang jauh – jauh untuk bersama merajut cinta semagaimana konsep Illahi sebagai Rahmatan Lil’Alamin.

Beberapa Sisa Ingatan
Secara generik memang sudah terlalu banyak yang saya lupakan tentang proses kegiatan mahasiswa dan perkuliahan, beberapa orang dosen masih . . . . masih teringat seperti Ibu Siswati Dardiri, Ibu Khadijah Nasution,  Ibu Aminah, Ibu  Jawimah, Bapak Hasan Baida’ie,  Bapak Fathuddin Abdul Ghani, Bapak Faishal Ismail, Bapak Wasyim Bilal, Bapak Abdurrahman,  Bapak Mashudi, Bapak Aburisman dan Bang Amrullah Achmad,  Bang Baihaqi kemudian  di bagian administrasi ingatlah kepada Pak Kurdin.

Untuk semua dosen yang telah almarhum dan shahabat alumni yang juga telah lebih dulu dipanggil kehadirat_Nya  mari kita hantarkan doa bagi mereka semua . . . dengan Shalawat dan Fatihah serta memohonkan agar di ampuni semua dosanya, di berikan tempat yang paling mulia disisiNya. Amiin
Saya sebagai salah seorang mahasiswi sempat berdialog serius dengan Pak Kurdin beliau  menyampaikan dengan santun terkait  ijasah yang harus menggunakan foto tanpa jilbab :  

“Mbak Intan sesuai ketentuan ijasah tidak bisa diambil dan di berikan karena foto yang Mbak berikan masih berjilbab”.

Saya magh . . .  spontan menjawab pada Pak Kurdin : 

“O . . . gitu ya Pak,  baiklah mungkin saya satu – satunya mahasiswi yang tidak akan mengambil ijasah jika demikian peraturannya”

Terbayang wajah Pak Kurdin saat mendengar jawaban saya, beliau memandang . . . sekilas dan iapun menerawang jauh pandangannya entah kemana. Namun akhirnya ijasah dengan foto berjilbab bisa saya peroleh dan Alhamdulillah ijasah itulah yang mengantarkan saya hingga kini kemudian menjadi guru PAI di Pondok Pesantren Al Qur’an Babussalam dengan panggilan akrab para santri Bunda Intan.

Pada tahun 2011 ada istilah PLPG #lupa singkatannya mungkin Program Latihan Pendidikan Guru dan 600 orang guru PAI di Kabupaten Bandung dinyatakan lulus sebagai Guru Bersertifikasi.

Konsekwensi sebagai guru bersertifikasi adalah peningkatan kinerja dan perubahan pola fikir serta faham perkembangan dunia pendidikan, keinginan pemerintah seperti itu namun di lapangan banyak hal yang mempengaruhi  sehingga harapan pemerintah tidak sepenuhnya tercapai namun TPG (Tunjangan Profesional Guru)  harus rutin di bayarkan, jika tidak banyak diantaranya klepek – klepek susah hidup.

Berjumpa Merajut Rasa
Saat hari Sabtu, 28 Januari 2017 kami semua saling jumpa di Kampung Kunden Blambangan Jogotirto suasana penuh kekeluargaan yang teramat manis.

Membuncah rasa terapresiasikan dalam berbagai bentuk prilaku, bisa disaksikan dari banyak foto – foto kenangan (khusus untuk Mbak Sulis dan Mas Usman terimakasih ya) lalu menggumpal menjadi energi ingin kembali berjumpa disuatu ketika dimanapun itu, teriring do’a semoga semua dianugerahi keselamatan dunia dan akhirat dan kesempatan untuk kembali bersua.

Mas Syarif  Usman menyampaikan dalam grup agar masing – masing membawa flash disk dan Alhamdulillah dokumen itu telah saya dapatkan dengan nikmat menyaksikan kejadian hari itu dalam bentuk puluhan picture dan Mbak Sulis yang telah menyiapkan juru foto yang manissz. Nuhuuun ya untuk semua . . . 

Jazakumullahu Khoiron Katsiron


Ciburial Bandung,  Rabu 1Februari 2017 M /  4 Jumadil Awwal 1438 H

Posting Komentar