2 Sep 2017

Pengetahuan, Kesadaran Dan Cinta Bermula Dari Arafah




Pergerakan kolosal kaum muslimin dari seluruh dunia menuju kesatu titik (Arafah)  hanya terjadi satu tahun satu kali saja yaitu  pada    9  hingga 13  Dzulhijah.  

Prosesi ritual ini   sangat menggetarkan seluruh  alam dunia beserta isinya juga menebar aura kenyamanan di  alam Malakut sehingga dalam beberapa tulisan para ulama menerangkan perasaan bungahnya  Sang Kholik   terhadap ketaatan hamba Nya kemudian DIA berkata pada para Malaikat dengan penuh suka cita :


“Wahai para Malaikatku . . .  saksikanlah mereka hamba – hamba Ku  yang patuh   berkumpul disatu titik  (Arafah) dengan berihram dan saksikanlah . . .  mereka tengah  berdzikir, bertashbih, tahlil tahmid talbiah khusyu’ dalam munajat yang dalam.    Kabulkan doa – doa hamba Ku ini.”


Dan Allahpun  turun ke langit bumi melakukan wisuda akbar para calon jamaah haji hingga doa mereka dikabulkan Allah menjadikan haji mabrur.


Udara panas terik menyengat  di luar tenda – tenda jamaah terkadang diiringi angin gurun berdebu suasana hening membeku  kesemuanya tampak    terabaikan karena kekhusyu’an hamba sang  para pecinta munajat mengharapkan keselamatan saat menuju pada  ‘keabadian’.


Arafah adalah miniatur alam akhirat disaat kelak seluruh mahluk akan dikumpulkan di padang Machsyar  setelah melewati ribuan tahun melakoni  fase - fase kehidupan yang teramat dahsyat  yaitu :    alam shulbi,  alam rahim, alam dunia, alam barzah dan alam ba’ats, hingga alam mahsyar yang segera akan ditempuh kemudian adalah  alam hisab plus alam mizan.

Mengangkat tangan saat berdoa di Padang Arafah




Berdo'a

Penjelajahan makhluk manusia dalam taqdir Nya akan berakhir dialam keabadian.   
DIA adalah Yang  “abadi”.  

Manusia hanya berhenti (wukuf) sejenak kemudian menjelang maghrib mereka menuju Mudzdalifah bada shubuh bergerak menuju  Mina lanjut Harom mencapai Ka’bah yaitu melaksanakan Thawaf I’fadhah.

Ali Shariati menyimpulkan pergerakan manusia sebagai makhluk Allah yang taat dan patuh  menuju Arafah  di tuliskan olehnya bahwa:  


“perjalananmu adalah sebuah gerakan menuju  “keindahan”  yang mutlak,  pengetahuan yang mutlak,  keabadian dan kesempurnaan !.    Inilah  gerakan  abadi yang tidak pernah berhenti.”  ( Ali Shariati, p.60 )


Mereka yang berkumpul dari berbagai penjuru dunia . . .  tunduk terpekur merenda nasib dan bermohon ampunan demi ampunan karena kedzaliman dan kelalaian dalam hidup masa lalu sebelum Arafah.

Disini di Arafah berbagai dosa yang telah kita lakukan seakan bersenang ria menampakkan jirimnya  dengan terang benderang seperti slide yang bergerak cepat,  tentu saja perbuatan licik, tindak tanduk pembangkangan terhadap Sang Maha Melihat menjadikan diri kita bagai binatang yang terluka parah.


Bukan lagi manusia kita seperti binatang . . . . !   
Maka Arafah adalah solusi dimana kita bisa menumpahkan penyesalan dan permohonan ampun yang tiada terhingga dan tanpa batas.


Sesungguhnya  Allah  yang memerintahkan mereka semua berkumpul disini . . . di  Arafah  melalui Sang Khalilullah Ibrahim As.

Kemudian  Allah menyampaikan kalam Nya pada  Nabi Ibrahim As dalam satu ayat yang berbunyi :





QS. Al Hajj (22) : 27


“Dan serulah manusia untuk  (melaksanakan)  haji,  niscaya mereka datang kepada engkau dengan berjalan kaki dan mengendarai unta – unta yang kurus  yang datang dari segala penjuru yang jauh.”


Pada awalnya Nabi Ibrahim As.  merasa pesimis akan kemampuannya untuk  memanggil manusia seluruh alam dengan berbagai keterbatasan yang beliau rasakan,  akan tetapi Allah perintahkan : “Panggil saja mereka”  maka dengan penuh ketundukkan Ayah Nabi Ismail segera memanggil manusia mendaki menuju  “Jabal Abi Qubaisy”.


MINA,  persiapan Jumrah Aqabah (pict : dok. pribadi )
 
Dalam realitas kaum muslimin berjuang untuk memenuhi panggilan Nya dengan ihtiar yang tak kunjung henti akhirnyapun sampai di Arafah.

Jumlah  calon jamaah haji mencapai ratusan ribu  orang hingga jutaan  dimana tempat ini ( Arafah ) berdasar  perkiraan Nabi dapat menampung  hingga  8 juta jamaah  tanpa terkecuali  mereka semua  bergerak menuju Arafah.  
Musim haji 1438 H / 2017  ini kaum muslimin di PadangArafah berjumlah  2, 1  juta orang
musim ziarah  terbanyak di bandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya.
 

Adapun  Arafah  adalah  suatu tempat sekitar 14 mil (26 km) dari Makkah,  arah ke timur.  Di tengah Padang Arafah terdapat sebuah bukit bernama Jabal Rahmah.” ( O. Hashem p.151 )
Jabal Rahmah tempat perjumpaan Nabi Adam dan Ibunda Siti Hawa.


Arafah Lembah Kesadaran

Perasaan berkecamuk melekat kuat di dada seluruh  calon jamaah haji  2011 M / 1432 H, sejak tiga hari sebelumnya kami semua   membayangkan perjalanan menuju Arafah  adalah awal dari gerakan marathon sejenis uji nyali, uji kekuatan mental dan  penempaan “kesadaran diri”  bahwa kita memiliki keterbatasan teramat terbatas dan hina – dina  ditengah gelombang manusia  baik kaum muda  demikian bagi mereka yang telah sepuh dan menanggung berbagai macam penyakit diantaranya jantung, stroke dan gangguan lambung yang sudah akut.


Kecamuk di jiwa adalah menghimpun kekuatan untuk pasrah pada Allahu  Ahad   tentang nasib yang bakal terjadi dan kemungkinan – kemungkinan yang tidak dapat  tergambarkan dalam keterbatasan prediksi.


Seluruh masyarakat dunia yang sampai di Arafah hendaknya selalu  bersiap untuk sabar dan tabah jika kemudian tidak lagi ada kendaraan  pengangkut  dari Mudzdalifah, Mina hingga Makkah.


Mahbaz Jin  (pemondokan penulis beserta rombongan Kabupaten Bandung dari kloter 72)  menghitung jarak menuju Arafah.  

Pada hari yang bergemuruh ketika itu  dengan  warna putih mendominasi seluruh pemandangan dan keyakinan kuat bahwa  pasti kami akan menempuh perjalanan  sekitar 19 km  ke titik  Arafah  Jum’at,   8 dzulhijjah 1432 H / 4 – Nopember 2011 M.

Bukan karena jarak tempuh yang relatif  panjang,  Alhamdulillah seluruh jamaah terangkut menggunakan bis – bis yang sesungguhnya telah disiapkan panitia haji  sejak jauh – jauh hari menuju Armina ( Arafah, Mudzdalifah dan Mina ).

Ba'da Arafah. Persiapan menuju Muzdalifah (pict : dok. pribadi)



Kami berfikir tentang berbagai kemungkinan terburuk yang bakal dialami bada Arafah saat harus berjalan kaki untuk prosesi Mabit (singgah, satu malam) di  Mudzdalifah melaksanakan salat maghrib dan isya’ jamak takhir serta  mengumpulkan kerikil untuk  prosesi jumrah Aqabah.


Menuju Mina dari Mudzdalifah  sekitaran 5 km lanjut berjalan kaki,   dari  Mina ke Mekkah 7 km,  yang pada awalnya jamaah rombongan kami kloter 72   bersatu terhimpun 22 orang dengan berbagai kondisi diantaranya ada Pak Sulaeman yang berusia lebih dari 80 tahun,  Ibu Yetti yang memiliki jantung bawaan dari Indonesia ada dua orang Ibu  sepuh yang sudah tidak memiliki suami yang pada akhirnya semua jamaah turut  bertanggung jawab atas keselamatan saudara – saudara muslimnya.


Ketika akhirnya jamaah  terpencar – pencar terbawa arus deras jutaan manusia menuju titik yang sama penulis dengan seorang Ibu sepuh berusia 84 tahun,  ia  memegang dengan kuat di tangan kiri tampak diwajahnya khawatir terlepas saat udara panas mulai memanggang ubun – ubun sedang disebelah kanan Ibu Lia Purbaningrum juga memegang lengan penulis penuh keyakinan bahwa Mina dan Mekkah akan kami tembus bertiga saja.


Talbiah  . . . tahlil dan Takbir terus meluncur dari kerongkongan kami semua . . . ini energi dan amunisi mencapai titik itu.
 
 
Arafah Padang Ma’rifah

Prosesi  kesadaran diri berangkat dari sejarah kehidupan para Nabi yang mulia penggenggam amanah Allah Swt. teramat  penting bagi seluruh calon jamaah haji memahami  setiap stase,  agar bisa meningkatkan spirit kemenangan.
  
Menelusuri tulisan KH. Muchtar Adam dalam   “Tafsir Ayat – ayat Haji Telaah intensif dari Pelbagai Mazhab.”  Ditulisnya dengan  uraian yang sangat mendetail yaitu  :

Ada beberapa pendapat mengapa Padang tempat  berhimpunnya manusia di muka bumi  di katakan dengan sebutan  Arafah :

-     Setelah Jibril menuntun Ibrahim As. melaksanakan haji mulai dari thawaf kemudian sa’i sampai Mina,  Mudzdalifah lanjut ke  Arafah,  maka Jibril bertanya :

“Hal’Arafta maa roaituka ?”
“Apakah Anda telah mengetahui, apa yang saya perlihatkan ?”   


Nabi Ibrahim As.  menjawab :

“Na’am ‘aroftu”

“ya ., saya sudah mengerti”.


Sejak itulah Padang itu dinamakan Arafah.

Kondisi  ini di dahului dengan do’a Nabi Ibrahim As :


Waarinaa manaa sikanaa . . .

“Dan tunjukkanlah kepada kami cara – cara dan tempat – tempat  ibadah haji kami”  
 QS. Al – Baqarah (2) :  128


-          Dinamakan Arafah karena tempat itu merupakan pusat perkenalan manusia sedunia.

-        Dinamakan Arafah karena di tempat itulah Adam dan Hawa saling bertemu dan saling berkenalan, setelah saling mencari ;  sewaktu Adam di turunkan di India dan Ibunda Siti Hawa di Jeddah,  peristiwa ini terjadi pada  :  Hari Arafah  9 Dzulhijjah


-        Diambil dari kata al ‘Arfu   yang berarti alThayyib (bersih) ; berbeda dengan Mina yang ada kotoran dan darah ( Jabal Qurban )

-          Diambil dari kata al Shabru seperti kata :


Rajulun’aarifun iza kana shoobiroon wa khosyi’aan

Artinya : “Disebut orang yang arif jika ia  sabar dan khusyu’.”


Orang yang haji itu  sabar terhadap ketentuan Allah Swt,  khudhũ’  (tunduk) dan merendahkan diri kepada Allah Swt  serta sabar dalam menghadapi bala’  serta cobaan – cobaan,  khususnya sabar dalam menegakkan ibadah.


-      Dinamakan ‘Arafah karena tempat ini merupakan Padang untuk Ma’rifatullah  (mengenal Allah). Maksudnya di Padang Arafah,   jamaah haji berusaha mengenal dirinya   dan  memantapkan Ma’rifatullâh  sehingga ketika  kembali  ke tanah air ia mencapai muraqabah (selalu merasa diawasi Allah Swt).


Amalan Jama’ah Selama Wukuf

Disunnahkan bagi jamaah haji ketika di Padang Arafah untuk bersungguh-sungguh dalam dzikir, berdoa dan merendahkan diri pada Allah Ta'ala.

Ketika berdoa, hendaklah mengangkat kedua tangan.
Jika ia bertalbiyah atau membaca Al-Qur'an maka itu juga baik.


 

 

Talbiyah bacaan pertama para jamaah haji yang dianjurkan secara terus menerus dilafadzkan sesuai dengan kemampuan masing – masing Jama’ah,  dimulai setelah berihram  dari miqat dan berhenti membaca Talbiyah apabila sudah mulai Thawaf untuk ibadah umrah atau sesudah tahallul awal bagi ibadah Haji.  (Iwan Gayo,   p. 318 )

  1. Berada di Padang Arafah hingga terbenamnya matahari.

  1. Berbuat kebaikan pada sesama jamaah haji dengan memberikan minuman dan membagi makanan.
 
Persinggahan sejenak (wukuf) di Padang Arafah bagi Ali Shariati,  dimaknai secara filosofis  . . .

Dari Makkah pergilah ke Arafat (innalillahi = sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah)  dan,  setelah itu,  dari Arafah kembalilah ke Ka’bah (wa inna ilaihi raji’un = dan kepada Nya kita akan kembali).
(p.61)


Arafah  berarti “pengetahuan” dan “sains”.
Masy’ar berarti  “kesadaran”  dan  “pengertian”
Mina  berarti  “cinta”  dan “keyakinan”


Pergerakan ritual haji dimulai dari Arafah saat terik Matahari 9 Dzulhijah  semua diam,  berdiam diri  (wukuf) ditenda masing – masing terpekur dengan penuh kepasrahan.

Ketetapan Allah Yang Maha Indah terkait dengan yaumul Arafah  dilaksanakan oleh Rasulullah beserta umatnya pada 10 Hijriah dan kemudian dilanjutkan oleh para sahabat hingga sampai pada manusia era global  ;  ketetapan ini agar manusia sebagai makhluk dunia memiliki kesadaran, wawasan, kemerdekaan, pengetahuan dan cinta di siang hari.

Ketika Matahari tenggelam gelapun tiba, disana tidak ada  perkenalan dan pengetahuan,  manusia terus bergerak menuju Masy’aril Haram dan dikenal juga dengan negeri  “kesadaran”.

Manusia mengira bahwa kesadaran yang terlebih dahulu baru pengetahuan akan tetapi Allah dan Padang Arafah  memberikan dan menampakkan pelajaran berarti dari perkenalan Nabi Adam As.  Pada Ibunda Siti Hawa.

Saling mengenal satu dengan yang lainnya adalah  pengetahuan termasuk bahwa Adam berjenis kelamin rijal (laki – laki = male) dan pasangannya adalah nisa’ (perempuan = female),   ini adalah pengetahuan yang paling awal dimuka bumi.
Kita memahami kemudian dari pengetahuan, muncul kesadaran saling mencinta,  menikah dan membentuk satu keluarga terbangunlah ketika itu kehidupan sosial yang pertama kali.

Jabal Qurban 1432 H (pict : dok. pribadi )


Evolusi pengetahuan menimbulkan kesadaran pada diri manusia,  kemudian lahirlah sains yang meningkatkan pengertian  dan selanjutnya meningkatkan kesadaran manusia dan kita saksikan bersama meningkatkan kemajuan ilmiah yang teramat pesat.  (Ali Shariati, p. 64)

Sains bermula dari Arafah, pengetahuan, kesadaran cinta Adam dan ibunda  Siti Hawa.


Ibunda Siti Hawa adalah penduduk Surga yang mengembara ke alam dunia karena ketergelinciran saat bersama Adam di negeri sana, secara fisik ia digambar sangat cantik. Kesulitan menggambarkan kecantikan Hawa.  Maka secara logika seorang ulama mengisahkan dalam salah satu kuliah dihadapan para mahasiswanya bahwa secara hitung – hitungan.
Adalah jumlah kecantikan dan keindahan 100 %.  Hawa memiliki kecantikan dan keindahan fisik 90% adapun kecantikan makhluk bumi kecantikan dan keindahannya 10% dibagikan pada semua perempuan di muka bumi dari jaman dahulu kala hingga kini.


Salam  #Sabtu _Mubarokan  11 Dzulhijjah 1438 H / 2 September 2017 M. 




Referensi :
*O. Hashem.  Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi.  Kisah Perjalanan Haji Rasulullah Saw.  Menurut  Kitab – kitab Shahih.  Bandung : Penerbit Mizan  KHASANAH  ILMU  ILMU  ISLAM.  Rajab 1429 H /  Agustus 2008 M

*Ali Shariati, Dr.  Haji.  Bandung : Penerbit Pustaka. 1416 H / 1995 M

*Muchtar Adam. Tafsir Ayat – ayat Haji Telaah intensif dari Pelbagai Mazhab. Bandung : Mizan, 1994

*Iwan Gayo . Buku Pintar Haji & Umrah. Jakarta : Pustaka Warga Negara, Mei. 2012