17 Mei 2016

Kearifan Lokal Menabung Emas Minimal Hanya Lima Ribu Di Pegadaian


Siapa Mau Nabung untuk dapatkan Emas Murni

Lintah Darat
Panitia Road Blog Bandung disamping memberitakan lewat grup  Blogger BDG kegiatan yang akan diselenggarakan pada  Sabtu 14 Mei 2016 kemudian memberitakan via e_mail baik tentang undangan dan disusul kemudian rundown acara. Terima Kasih Kaka  Panitia.

Acara cukup padat merayap memang rundown sudah diterima namun tidak di baca (salah siapa, panitianya sudah baik sekali ) dan tidak begitu memperhatikan juga kalau mau ada Pegadaian eaa . . .

Menyimak presentasi yang di sampaikan, terpampang di fikiran kata pegadaian banyak kisah tragis di balik kata itu yang sempat penulis alami bukan karena berurusan dengan pegadaian justru berurusan dengan nasabah pegadaian tradisional datang kepintu – pintu ala ala tok tok wow  yang bunganya berlipat lipat ganda mencekik rakyat miskin atau membunuh perlahan dulu sich populer juga di sebut lintah darat.

Lintah darat ini melakukakan operasi kerumah – rumah berdasar survey tim mereka  yang lumayan canggih kendati dahulu tidah ada handphone boro – boro android alah Kakak . . . . tidak secanggih masa kini tapi mereka nyebar informasi secepat kilat dimana -  dimana saja orang miskin yang lagi emerency butuh fullus,  mereka muncul kesannya mirip – mirip dewa namun sesungguhnya mereka itu Iblis. 

Menanda Tangani Pembukaan Rekening Tabungan Emas, pict : dokpribadi
Pembinaan Majlis Taklim
Lima tahun yang lalu disalah satu Majlis Ta’lim penulis di minta oleh koordinator  jamaah agar membahas tentang  ‘riba’ demikian tanpa berfikir matang sore itu di bahaslah dalam Masjid yang masih dalam proses penyelesaian.

Penulis menjelaskan dalam  suasana riuh yang tidak biasa dari sekitar lima puluh ibu – ibu yang biasa hadir dengan tingkatan usia yang cukup variatif rentang usia 25 – 85 tahun, dalam kesempatan satu jam penuh di bahas secara rinci plus tanya jawab dan diskusi.

Riba dalam realitas kehidupan sosial sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup seseorang bahkan keluarga dan tentu saja negara akan tercekik hutang riba,  definisi dalam kaidah agama dirinci dengan maksud agar jama’ah yang hadir faham dan mengerti.

Dalam tinjauan bahasa  riba = dziyadah (tambahan)  maksudnya adalah tambahan atas modal baik penambahan itu sedikit atau banyak  tentu saja ini jadi perbincangan cukup panas,  sehingga dalam majlis ada yang menyimak dengan khusyu’ sebagiannya buka forum sesama mereka.
semoga barokah untuk keluarga Indonesia, pict : dokpribadi

Lanjut saja pembahasan disore itu cuek bebek dengan yang membuka forum pribadi, berusaha menarik perhatian bagi beberapa Ibu yang tetap fokus pada kajian.
Jika kita menelaah beberapa buku yang mengkaji tentang riba dalam konteks ajaran Islam sepertinya hampir semua sepakat bahwa riba tidak boleh satu suara haram  akan tetapi ada beberapa pandangan moderat yang mengatakan contoh : 

“bila bank baik milik pemerintah atau swasta itu dikategorikan  haram  sesungguhnya haram dalam salah satu pandangan  kalau digunakan uang nya untuk proses kegiatan konsumtif,  jika untuk membiayai kesehatan pendidik atau untuk usaha produktif maka itu yang tidak diharamkan”.

Intinya :
Riba diharamkan oleh seluruh agama samawi,  dianggap membahayakan oleh agama Yahudi, Nasrani dan Islam.

Di dalam Perjanjian Lama :
“Jika kamu mengqiradhkan harta pada salah seorang putera bangsaku jangan kamu bersikap seperti orang yang menghutangkan;  jangan kau meminta keuntungan untuk hartamu”.  Ayat 25 fasal 22 Kitab Keluaran. (p. 117) 

Konsep ini tentunya terkait dengan lebih utama menjaga persaudaran di bandingkan dengan akumulasi atau penumpukan harta, yang menjadikan seorang manusia super rakus, demikianpun  dalam Kitab Imamat.

“Jika saudaramu membutuhkan sesuatu  maka tanggunglah. Jangan kau meminta darinya keuntungan dan manfaat”
Ayat 35 fasal : 25 Kitab Imamat 

Kecuali itu orang – orang Yahudi tidak mencegah riba dari orang yang bukan Yahudi,  seperti apa yang dikatakan dalam ayat 20 fasal 23 Kitab Ulangan.  Dalam kaitan ini Al Qur’an menjawab  mereka seperti pada surat An Nisa (4) : 16

“ . . .  dan disebabkan mereka memakan riba padahal mereka sesungguhnya telah dilarang darinya”.

Di dalam Kitab Perjanjian Baru :
“Jika kamu mengqiradhkan kepada orang  yang kamu mengharapkan bayaran darinya,  maka kelebihan apa yang di berikan olehnya.  Tetapi lakukanlah kebaikan – kebaikan dan qiradhkanlah tanpa mengharapkan pengembaliannya dengan begitu pahalamu berlimpah ruah”. Ayat 34, 35, fasal 6 Injil Lukas.  (p.117 )  

Berdasarkan nash ini,  para gerejawan mengharamkan riba secara total. Scubar berkata :  “Sesungguhnya  orang yang mengatakan riba bukan maksiat,  ia dihitung sebagai orang atheis yang keluar dari agama”.

Paus Pius berkata :  “Sesungguhnya para pemakan riba,  mereka kehilangan harga diri / kemuliaan dalam hidup di dunia dan mereka bukan orang yang pantas dikafankan setelah mereka mati”.

Al Qur’an menyinggung masalah riba di berbagai tempat,   
tersusun secara kronologis berdasar urutan waktu :
QS. Ar Ruum (30) : 39
QS. Ali Imran (3) : 130
QS. Al Baqarah (2) : 278 dan 279
(p.118)
Harapan Memiliki Emas sebagai investasi aman, pict : dok.pribadi  

Usai pembahasan yang lumayan panjang dan melelahkan, memang terasa agak ganjil pertemuan dan pembahasan kali ini, setelah beberapa pekan menelusuri penyebab keriuhan dalam Majlis ini baru terungkap bahwa umumnya masyarakat disini hidup dari uang yang di tebar para lintah darat itu seakan mereka tidak punya pilihan.

Hingga kini penulis masih tetap setia membina Majlis ini, namun berusaha menghindar pembahasan tentang riba secara khusus dan rinci karena jelas akan menumbulkan kegaduhan,  kajian tentang riba cukup diselipkan saja sebagai  proses penyadaran tentang pentingnya menjauhi riba dengan salah satu solusinya membangun koperasi yang lebih aman,  memang pemerintah harus hadir di tengah – tengah mereka bagus dan mendukung adanya  Program Sahabat Pegadaian ( Costumer get Costumer ) penulis beranggapan konsep ini cocok di terapkan di tengah – tengah masyarakat seperti Majlis Taklim yang tersebut.

Pegadaian Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

Eksekusi Rumah Tinggal Sebagai Barang Jaminan 
Kisah tragis lainnya adalah  seorang saudara jauh yang terkena deadline eksekusi rumahnya, entah alasan apa sehingga  penulis yang dijadikan sandaran bagi dirinya untuk menutupi hutang – hutang yang setiap hari membengkak seperti cancer ganas. 

Penulis dikejar kejar siang malam, di tilpun selama satu bulan penuh lari kemanapun dikejar by handphone,  sedihlah Kakak merasakan seperti buronan satu sisi ingin menolong tidaklah mungkin uang sejumlah wow bingits boro boro menolong dirinya,   diriku saja tidaklah mampu menyiapkan  uang sejumlah  enam puluh satu bulan cash saat itu jaman satu dolar 8000 ; lalu . . .  lari dan lari menghindarinya karena sudah menolak dengan halus adalah salah satu cara orang timur berbasa – basi, 

sangat tidak masuk akal untuk situasi rumit ini. 
Menolak dengan bicara secara menggunakan  logika dan demikian  berulang ulang penolakan yang penulis lakukan lha koq tidak mempan ya.
Ijab Kabul dengan salah seorang petugas, pict : dok.pribadi

Menolak dengan cara menghindari berjumpa tatap muka dengan korban lintah darat dengan cara pergi - pergi dari rumah berlari lari seperti The six million dollar man,  
jiaah . . . lebay nyak  ( sumpah serius ini bukan fiktif dan pengalaman ruhani yang tersimpan kuat gegara lintah darat ). 

Kisah ini jauh dari dramatisasi, karena sesungguhnya operasi lintah darat itu menyusuri masyarakat yang rentan kemudian mereka sebagai korban yang tidak berdaya  mencari perlindungan kemanapun mereka bisa, bukan sial jika kemudian penulis selalu menjadi sandaran para korban, yang sial adalah disaat mereka butuh pertolongan harusnya  bisa menolong akan tetapi sebagai rakyat yang sama - sama dhu'afa tentu saja penulis tidak memiliki finansial yang memadai. Hai hai . . . pemerintah ada dimana . . . dirimu ? atau adakah Malaikat di tengah mereka.

Marketing Dampak Lintah Darat  
Penting sekali penulis ungkapkan salah seorang korban yang secara tidak langsung dari modus operasi lintah darat di negeri ini,  adalah kisah Ibu Hj. Susi dan Pak Haji Rachmat Buchori yang bingung dan kebingungannya di share kepada penulis.

Beliau berdua terbilang hidup cukup dan  mapan dengan rumah gedung,  halaman luas mereka juga memiliki  sejumlah tanaman diantaranya pohon  sukun yang berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim baik di goreng atau direbus rasanya manis serta pulen, memang Pak Haji gemar bertanam pohon - pohon langka.

Halaman parkir milik mereka bisa digunakan sekitar  enam mobil,  kolam ikan menjadi salah satu aset dalam kehidupa Pak Haji,  beliaupun sangat mengutamakan pendidikan bagi putera dan puterinya.
 
Mang Parkir hayuuk tampil . . . pict : dok.pribadi
Salah seorang puteri tertuanya ada yang sekolah di Jerman jurusan komunikasi,  si bungsu kuliah di kedokteran UNPAD, Pak Haji beserta istrinya memiliki citra sebagai orang kaya yang sangat dermawan kendaraan harian fourtuner  plus  mobil  operasional box mengangkut macam – macam hasil kebun.

Keluarga ini tanpa mereka sadari hidup dalam komunitas masyarakat yang terjerat hutang dari para rentenir,  karena dikenal dermawan inilah sehingga timbul berbagai masalah dalam perjalanan hidup keduanya dan penulis secara tidak langsung akhirnya penulispun kecipratan masalah penyakit dari lintah darat yang merepotkan.

Pada awalnya mereka berusaha menutupi utang satu dari penduduk di lingkungannya, pada hari lain muncul  dua orang eh lama – lama menjadi duapulu tiga puluh . . . semua butuh di tolong,  sebagai orang yang cukup peduli pada problem sosial akibat lintah darah maka mereka berdua mencari solusi.

Pak Haji dan istri membuat usaha dan melatih semua korban lintah dara ini agar tidak menggantungkan diri dari uang uluran tangan mereka berdua,  tentu saja apa yang beliau lakukan tantangannya adalah mental SDM yang di bangun dalam situasi kemiskinan plus kemalasan dan konsumtif aduh . . . Kaka nasib rakyat empat miskin lima sempurna malasnya. ( Istilah empat sehat lima sempurna ini terkait makanan sehat)

Membina dan  melatih etos kerja salah satu  persoalan yang otomatis bukan hal sepele,  persoalan berikut kerupuk  basreng yang di hasilkan saat hasil olahan harus dipasarkan siapa yang harus bergerak.

Pak Haji membujuk rayu agar penulis yang memasarkan produksi dari anak buahnya yang korban para lintah darat,  waduh singkat cerita dipasarkanlah produk mereka  di Car Free Day Dago setiap hari ahad, di war war ke keluarga tentu ini muncul persoalan baru lagi bagi kami sekeluarga.

Demikian tiga kisah yang diungkap disini ketiganya menimbulkan trauma tersendiri bagi keluarga penulis akibat praktek lintah darat, yang dampaknya tidak hanya mereka yang terlibat langsung juga orang disekelilingnya diriku dan keluarga terimbas kerepotan massal mau tidak mau ya harus mau Kaka . . .

Pastilah pemerintahpun tidak menutup mata,  penulis yakin  munculnya pegadaian dengan salah satu program yang menjadi primadona adalah pegadaian emas  harapannya benar – benar menjadi salah satu solusi hebat dan penting kita syukuri bersama dan memang dengan komitmen :   
  

Mengatasi Masalah Tanpa Masalah


yang terbayang dalam benak penulis pegadaian ini menjadi wakil pemerintah yang di butuhkan oleh masyarakat di akar rumput,  karena apa yang penulis alami kemudian di ungkap disini adalah bagian terkecil dari persoalan besar bangsa ini. 
Kemudian beberapa program yang ada di pegadaian,   yaitu  :

-         Kredit Mikro Pegadaian ( Solusi Handal Pengembangan Usaha)
Walaupun di Indonesia ini telah tumbuh berbagai lembaga keuangan baik konvenssional ataupun syariah penulis beranggapan pegadaian lebih care dalam masyarakat di akar rumput sehingga salah satu program menarik, seperti  pinjam 1 (satu) juta bunga hanya Rp 10.000 / bulan cukup mudah di fahami dan persyaratan tidak terlalu berbelit,  yaitu :

  • -          Memiliki Usaha UMKM
  • -         Foto Copy KTP dan KK (kartu keluarga)
  • -         Memiliki agunan kendaraan bermotor (    (BPKB asli, Foto Copy STNK dan Faktur Pembelian)
Tentu saja pegadaian ditantang untuk lebih bersahabat dengan rakyat sehingga apapun yang menjadi ketentuan atau persyaratan  semoga masyarakat mampu dan bisa memenuhinya tidak menimbulkan kesan mempersulit dan mencekik sebagaimana praktek lintah darat yang telah marak dan kita faham tentang keganasan mereka.

-         Pegadaian Investasi Emas Batangan ( Solusi Tepat Investasi Masa Depan )
Untuk masyarakat kelas tertentu emas memiliki tempat khusus, sehingga cukup strategis pegadaian meluncurkan program ini dengan beberapa keuntungan, diantaranya :

1.      Cicilan flat perbulan tidak terpengaruh harga.
2.      Dijamin keaslian karat dan gramnya
3.      Pembelian bayback yang kompetitif
4.      Bisa dikonsinyasikan di pegadaian

Yang perlu menjadi pertimbangan penulis untuk berkontribusi membukan rekening di pegadaian berdasrkan apa yang di ungkapkan dalam brosur bahwa 
harga logam mulia cenderung stabil ; logam mulia di terima di semua kalangan ;  logam mulia mudah diuangkan dengan resiko investasi sedang.  

-         Pegadaian Tabungan Emas ( Cara Mudah Punya Emas ) 
     Keinginan  memiliki emas,  penulis rasakan bukan hanya dominasi kaum perempuan kaum lelakipun tidak sedikit yang tertarik memiliki benda ini apakah batangan atau telah menjadi perhiasan,  jika kemudian pegadaian memiliki program tabungan 
     Pegadaian Emas dan penulispun telah tertarik  mendaftar di booth RoadBlogBDG diantara jeda saat acara berlangsung, data utama yang penting yaitu :

Nama : Intan Rosmadewi
No KTP : 320 406 540 36 20003

Tentu mendaftarkan diri dengan identitas namadan copy  KTP semua persyaratan di bantu sepenuhnya oleh para  petugas dalam keadaan sadar dan bahagia bisa punya satu harapan memiliki tabungan emas untuk puteri cantik kami, karena : 

Aman dititipkan di pegadaian
Sebagaimana masyarakat faham dan yakin menggadaikan emas di pegadaian rasanya belum pernah mendengar berita hilang agunan emasnya  saat seseorang menggadai emas  . . . ngga tuh !  Pegadaian di kenal keamanannya bila masyarakat menitipkan emas.

Ringan bisa menabung dengan dimual Rp 5000
Ketentuan ini,  bagi penulis mengakomodir salah satu kearifan lokal bayangkan satu mangkok ba’so saja sudah melebihi harga limaribu rupiah lalu ramahnya pegadaian membuka diri dengan uang yang relatif bisa dijangkau kalangan grassroot

Mudah karena dapat di jual kembali
Emas memang investasi yang bersahat untuk semua kalangan masyarakat karena bisa dijual kapanpun juga.

-         Sahabat Pegadaian ( Costumer get Costumer )
Program sahabat pegadaian costumer get costumer adalah program yang memberikan ruang kepada siapapun yang memiliki ketrampilan mengajak dan upaya dari pegadaian dengan iming – iming menggiurkan,  ini penulis anggap sebagai motivasi agar masyarakat bisa kembali berakrab ria dengan pegadaian.

Tentu saja apa yang diharapkan oleh pemerintah dimana pegadaian bisa disosialisasikan dengan lebih gencar lagi, harapan kita semua sedikit demi sedikit bisa mengikis habis praktek praktek lintah darat yang jelas meruntuhkan sendi – sendi kehidupan sosial.
Pegadaian semoga menjadi solusi di akar rumput.


Referensi  :
Sayyid Sabiq. Fiqih Sunnah Jilid 12-13-14 cet.8.  1996
Bandung : PT. Alma Arif

#sahabatpegadaian 



OJK – Ototitas
Call Center : 021 8581162
                   02180635165


Posting Komentar