31 Mei 2016

ISTIGHFAR NABI ADAM AS




Qaalaa Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa – in lam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunanna mina al khaasiriina

[7:23]  Keduanya berkata :  “Ya Tuhan kami,  kami telah menganiaya diri kami sendiri,  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,  niscaya pastilah kami termasuk orang – orang yang merugi”.   


Nabi Adam As, adalah bapak pertama umat manusia di muka bumi ini tentu kisahnya banyak di kenal dan di kenang banyak orang demikian kiprahnya tentu saja penting menjadi ibrah (pelajaran) untuk hidup dan kehidupan kita semua.

Sebagai seorang manusia pertama beliaupun tidaklah sempurna dan tidak lepas dari perasaan bersalah dan berdosa hingga puluhan tahun Nabi Adam berdoa dengan kalimat – kalimat menyayat dan dipersembahkan hanya pada Allah SWT.

Ber istighfar ( memohonkan ampunan ) pada Allah bukan hanya wilayah para Nabi,  Rasul,  Malaikat dan orang – orang shaleh . . . juga merupakan wilayahnya kita sebagai umat manusia, hamba Allah yang produksi dosanya dari waktu kewaktu. Maka selayaknya dan sewajarnya mohon ampunan pada Allah SWT. khususnya menjelang dan saat bulan ramadhan.

Sebagaimana telah Bunda kutipkan ayatnya diatas, dan kemudian di penggal – penggal agar dapat menghayati lebih mendalam sehingga saat menghantarkan do’a kehadirat Nya kita memahami betul maknanya.
Insya Allah.  Amin.  

Qaalaa Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa 

Keduanya berkata :    “Ya Tuhan kami,  kami telah menganiaya diri kami sendiri,   . . . . . “

Makna keduanya kita tidak perlu menebak, jelas ini di tujukan pada Nabi Adam As, beserta Ibunda Siti Hawa yang terjebak oleh bujuk rayu Syetan sungguh menyesal dan diungkapkan dengan rendah juga kalimat sangat nelangsa setelah keduanya diusir dari Surga yang berlimpah kenikmatan.

Sehingga dapat kita fahami bersama dari kalimat nelangsa ini bahwasanya jika kita berani melanggar dan menerabas juga menerobos melakukan dosa hakekatnya adalah penganiayaan pada diri sendiri. 
Naudzubillahi min dzalika.

wa – in lam taghfir lanaa watarhamnaa


“ . . .  dan jika  Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,  . . . “

Prioritas dari do’a dan harapannya adalah :

1.      Diampuni dosa – dosa karena kelalaian dan pembangkangan dari kalimat – kalimat Nya

2.      Mohon kasih sayang Allah dalam menempuh perjalanan di alam dunia ini dengan berbagai hal yang mendukung berlangsungnya pengembaraan


“ . . . . lanakuunanna mina al khaasiriina . . . “

“ . . . . .  niscaya pastilah kami termasuk orang – orang yang merugi”.  
Bayangkan oleh diri kita secara individual, 

Pertama
Jika kemudian kita yang melakukan pembangkangan itu dan membandel tidak menuruti apa yang diperingatkan Allah sehingga terusir dari Surga . . . .

Kedua
Allah tidak mengampuni dari dosa – dosa pembangkangan  apalagi menyayangi kita, sehingga mungkin hidup dialam dunia hanya duka nestapa yang tiada ujung tanpa anugerah cinta dan kasih sayang Allah.

Ketiga
Sudah mah dialam dunia rugi,  tentu kita tidak ingin merugi pada level yang lebih tinggi lagi.

Kapan Istighfar Nabi Adam As ini layak di baca ?  sebagaimana keutamaan berdo’a itu waktunya disamping ba’da shalat wajib terkenal dan populer do’a ini dibaca pada sepertiga malam, minimalnya bangun konektivitas diri kita dengan Allah apalagi di bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan perjamuan Ilahii . . .

Salam Marhaban Mubarokan.
Selasa,  24 Sya’ban 1435 H  / 31 Mei 2016 M

Posting Komentar