22 Okt 2015

Beradaptasi Dengan Berbagai Kesulitan




Kita semua perlu menyadari bahwa kesulitan adalah anugerah Allah yang sering diantara kita tidak menyadari bahwa ini adalah tonggak kemajuan dan bahkan mungkin mengangkat diri kita ke tingkat kemuliaan.

Mencapai tonggak kemajuan dan derajat kemulian tentu tidaklah mudah butuh kesadaran dan keteguhan  berfikir ( iman ) juga ketangguhan dalam menapaki takdir diri dan keluarga             ( amal ),  dan berinteraksi secara istiqomah – berkesinambungan dengan lingkungan sosial ( jamaah ) agak kelak menjadi tabungan ibadah dan berharap menjadi syafaat, baik jangka pendek bahkan semoga juga jangka panjang.

1.       Kesadaran Dan Keteguhan Berfikir

Jika saja Bunda tidak sadar,  bahwa wafatnya Ayah adalah karena Rahman dan Rahiimnya Allah.   Mungkin hidup ini hanya tenggelam dalam nestapa, sementara diluar sana . . . Palestina ; Suriah bahkan di peloksok – peloksok negeri ini termasuk Lumajang yang masih hangat  ‘kesedihan’ itu bertebaran dan berhamburan  bila dibanding dengan mereka semua . . . .  maka penting dan wajiblah Bunda juga putera dan puteri demikian cucu  selalu bersyukur  pada – Nya.

Lain syakartum la adziidannakum walaa in kafartum inna adzabi lasyaadiid.

2.       Ketangguhan Menapaki Takdir

Masuk 9 Muharam ( Rabu malam Kamis ) tentu Bunda ingat satu hari lagi peringatan Karbala dikenal juga dengan Asy Syura  dan kemudian Allahpun menganugerahkan ujian ketangguhan itu kepada kami.

Roidah demam tinggi sejak kemarin malam yang terasa kepala sakit, batuk seluruh tulang terasa sangat sakit sempat minta rhemacil, dan Bunda tidak memperkenankan ia minum obat tersebut maka untuk sedikit meredakan habbats menjadi salah satu andalan meskipun reaksinya lamban namun secara psikologis berharap mengurangi rasa sakit itu.

Ketika Roidah turun dari kamarnya dan tampak menggigil menahan sakit disamping sangat pucat ia minta dibelikan paracetamol;  Bunda katakan : “kita kedokter saja”.

Saat itulah butuh supir, maka Caca Kholillah mencari – cari siapa saja yang bisa ngantar . . . . .
Mendatangi Abah Fajar, menanti jeda karena baru saja datang dari bawah

Mendatangi Alfian, memang perkiraan Bundapun tidaklah mungkin karena ia harus menjaga anak – anaknya yang masih pada kecil sedang kan Ibunya masih dalam prosesi haji
Mendatangi Mulyana, iapun belum ada dan belum kembali dari kegiatannya
Sangat sulit memang . . . tanpa Ayah disamping kita semua.

Allohummaghfirlahum warhamhum wa’afihii wa’fu anhum . . . .

Alhamdulillah diantar a khawatir, sedih dan bingung akhirnyapun Abah Fajar bisa mengantarkan Roidah dengan didampingi Bunda.
Hal yang sudah menjadi dugaan Bunda juga Roidah :

-          Kecapaian
-          Sering begadang
-          Sering telat makan
-          Sering makanan yang ekstrim
-          Diakumulasikanlah . . . stress

Maka dokterpun memberikan macam – macam saran : istirahat total, makan yang lembek, tidak boleh makan pedes, mie dan harus banyak minum air putih untuk menstabilkan suhu badannya yang meningkat, karena tensi masih bagus kalau tidak keliru ingat  110/80
Dan sementara ini Roidah istirahat total


Raidah, Naeema dan Khalillah


3.       Interaksi dengan Lingkungan
Kegiatan jadwal Bunda ke 12 Majlis Ta’lim dalam rangka pembinaan umat  yang selama ini menjadi pendukung utama adalah Ayah,  setelah Ayah wafat selainnya sangat Bunda rasakan tidak memperdulikan sama sekali.
Dan . . . Bunda merasa wajar,  inilah saatnya Pengkaderan Akbar itu yang dengah kokoh Bunda pancangkan dan tanam dalam – dalam ke jiwa yang pilu . . . ini
Sekuat tenaga jika mungkin Bunda hadir menyambangi mereka untuk saling berbagi dan prinsipnya : ingin mendapat banyak dan banyak ilmu . . . bagikan apa yang kamu miliki, maka Insya Allah kita akan mendapat banyak  manfaat dari apa yang kita tebar

Betapa sulitnya tanpa Ayah disisi Bunda, 
akan tetapi  ini mungkin hanya 1%  saja dari Karbala . . .

Allahu Akbar . . . 

Bunda dan kita semua . . .  menuju Padang Karbala
Shalawat dan Salam kepada junjungan kita semua Nabi Muhammad Saw . . .
Ciburial,  9 Muharam 1437 H / 22 Oktober 2015 M



3 Okt 2015

Oh Blogger . . .



 Dunia perbloggeran boleh di kata lima tahun terakhir ini menjadi satu kasta tersendiri dalam masyarakat yang membangun dirinya untuk selalu menulis dan mengeksplorasi jiwa, mengasah nalar sehingga lahirlah dari mereka tulisan – tulisan menyentuh, bermanfaat juga melempar bahkan menyawer  inspirasi bagi  siapapun yang berkenan menanamkan nilai yang dikembangkan blogger.



Sehingga wajar jika kemudian ada sebagian orang yang berkhusnudzan bahwa blogger memiliki kekuatan dahsyat dan dikatakanlah sebagai  pembangun budaya menulis yang sangat produktif .

Walaupun ada juga yang dengan ketekunannya,  mengamati dan  memilah – memilah dengan labeling  : blogger pesanan, blogger bounty, blogger launching bahkan tragisnya ada blogger hitam juga . . . bagi yang belum  eng . . ngeuh  baca tulisan Bang Gapey Fadhli disini  bagi penulis yang baru mencoba nimbrung sekitar satu tahun yang lalu kemudian lahir KBandung disusul mulai diramaikan dengan adanya grup tertutup #bloggerBDG.

Tentu saja dari pengamatan penulis selama berinteraksi dengan para #bloggerBDG  yang umumnya energik bahkan super duver mengherankan . . . 
ya blogger itu unik,  
blogger itu lucu asyiik dan selalu seru 
jika sudah gabung review produk atau 
istilah Mbak Ratri ngopi cantik dan ngeteh keren . . . 

Memang adakalanya jika review kuliner para blogger itu saling icip – icip jaim meskipun ada juga yang saling memotivasi agar satu menu segera disantap agar bisa dituntaskan dan reques hidangan berikutnya.


 
sesungguhnya ini adalah kuah untuk empek - empek




Demikian yang terjadi disuatu malam adalah aneka macam kopi dihidangkan bertahap, masing – masing ambil gambar selesai pengambilan picture  masing – masing pegang sedotan dan bergantianlah mereka merasakan hot and cold nya kopi yang dihidangkan bahkan sempat terpantau satu gelas bersisa lima hingga tujuh sedotan . . . siapa yang sempat ngambil picturenya boleh tayang disini . . .

Termasuk saat dihidangkan satu menu berkuah ketika tuntas habis bersisa sendok sejumlah entah tujuh entah sembilan . . . adegan . . . adegan ini terkesan konyol tapi ya lucu.

Dan semua blogger tampak santai,  happy tak terbebani dengan sejumlah sendok sisa.

Yang agak tragis memang penulis sejak awal sudah katakan saat kuah empek – empek terhidang dalam satu keler cantik, “tolong . . . pesen es batu satu gelas”  Cuma saja tidak ada yang berani untuk melakukannya, hehehe . . . termasuk penulis sendiri dan akhirnya dilupakan.


Entah jenis kekonyolan macam apa akhirnya ide itu dieksekusi oleh Abang Eduard De Grave

rasa lemonnya cukup kuat secara mirip orange juice . . segar


Nach . . . jadilah tampil seperti ice coca cola pagi . . . nya penulis membaca di timeline heboh hahaha . . . hihihi

Ini kisah yang sempat terekam dalam memori penulis, oh blogger . . . .

Kejadiannya lebih  di fokuskan pada hari jum’at 2 oktober 2015



Sabtu,  3 Oktober 2015 M/
20 Dzulkaidah 1436 H

2 Okt 2015

Edisi Afaren dan Bang Google




 
google memang tempat bertanya yang memudahkan sebgian manusia, Afaren yang mulai percaya bahwa apapun bisa ditanyakan ke google, padahal tidak sesederhana yang difikirkan si kecil ini
Selesai shalat maghrib muncul pertanyaan dari si bungsunya Ayah.

“Bunda kalau aturan itu untuk apa ya ?”

Karena Afaren sudah memegang buku dan pinsil maka tidak serta merta segera Bunda jawab, penasaran memang pertanyaan seperti itu muncul dari pelajaran apa jika di kelas tiga SD.

“PKN . . . Bund”  sambil berharap segera di jawab.

Sambil mencari jawaban yang tepat  dan merangkai kata yang “merenah”   buat anak kelas  tiga SD  rupanya si kecil tidak sabar, iapun punya solusi dari pertanyaan yang diajukan kepada Bunda –nya.





“udah Bund kita buka google saja.”

“Halaaah  . . . “

Ini anak mau buka google dengan satu pertanyaan

Tegas Bunda jawab  “tidak bisa;  ngga usah”

Si kecil Afaren dengan wajah polos dan jenaka,  menyodorkan kalimat nendang.

“Maksud Bunda aku ngga boleh pakai internet”

“Yeyen . . . itu satu pertanyaan dan  Bunda ngga perlu buka internet apalagi  tanya ke google.”

“Jawaban Bunda apa ?”

“peraturan di buat untuk kita patuhi”

Si kecil lucu bengong,  sepertinya dia bingung

Maka Bunda pun kasih ilustrasi dengan menyampaikan dialog ringan harian ala emak - emak melarang anaknya buka google.

“Kalau Ibu guru menentukan sekolah masuk jam tujuh pagi,  apakah Faren berani melanggar peraturan itu dengan masuk jam 10 siang?”

“aku ngga berani masuk jam 10 Bund”

“Itu tandanya Faren taat pada peraturan dan kamu adalah anak Bunda yang patuh.”

Si kecil tersenyum puas dan menyalin jawaban yang telah Bunda sampaikan.

Ampun ya . . . google sudah menjadi salah satu solusi jawaban dari kesulitan pertanyaan bahkan untuk anak yang baru duduk di kelas tiga SD. 

SEBEGITUNYA . . . . . si Abang google ada dihati ; 


Jum’at   19 Dzulhijjah 1436 H / 1 Oktober 2015 M