18 Jun 2015

Persiapan Do'a Hari ke Dua Ramadhan 1436 H



Mari menapaki tangga ke dua dibulan Ramadhan yang mubarokan ini,  diantara sekian banyak amal shaleh yang bisa kita lakukan,  berdo’a  adalah hal yang tidaklah mungkin kita tinggalkan. Allah berfirman :  Berdo’alah pada Ku,  maka do’a kalian akan Aku Ijabah” QS. Al – Mu’min (40) : 60




“Ya Allah,  dekatkanlah aku di bulan ini dari rida – Mu,  hindarkanlah aku di bulan ini dari kemurkaan – Mu,  dan  anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk membaca ayat – ayat (Kitab - Mu).  Dengan Rahmat – Mu,  Wahai  Zat  Yang Lebih Pengasih dari para Pengasih”**

1.      Menjadi Kerabat ke Ridhaan Nya
Pada do’a harian pertama di bulan Ramadhan ini  (link yang sudah publish),  adalah  permohonan agar kita sebagai hamba – Nya menjadi makhluk yang melaksanakan shaum sebagaimana shaum orang – orang yang sejati.
Orang yang sejati melaksanakan ibadah shaum harus melewati tahapan shaumnya ahli syareat, syaumnya ahli tharekat dan puncaknya adalah shaum ahli hakekat. 

Shaumnya ahli syareat,  dikategorikan shaum – nya orang kebanyakan 
( awam, umum ) berdasarkan kaidah fiqih yang telah sangat populer :  “menahan haus, lapar dan seks dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari” dengan demikian tentu saja persiapan hidangan buka shaum adalah kesibukan tersendiri mempersiapkan minuman dan makanan pembuka dengan aneka resep dan rasa yang menggiurkan,  tidak berwaspada pada hal – hal yang lebih spiritual, ruhani dan maknawi.

Shaumnya ahli tharekat, tidak hanya fokus pada aspek syareat mereka juga memperhatikan unsur lain yaitu dua indra manusia, indra lahir dan indra batin,  mengontrol kekuatan – kekutan lahiriah dan kekuatan – kekuatan bathiniah. *** (p.11)

Shaum ahli hakekat,  adalah : “gambaran sikap seorang ‘arif yaitu orang muslim yang Maha Bijak dan mempunyai nilai hikmah dalam kepribadiannya.  Jiwa – nya telah mencapai pada tingkat ma’rifatullah  untuk menahan diri secara mutlak (total) dari segala pandangan dan musyahadah yang bermuara kepada selain Allah” ***  (p.32)
Tahapan ini tujuan akhirnya adalah keridhaan Allah SWT   

2.      Mohon dihindarkan dari kemurkaan Nya
Jangankan murka Allah di akhirat,  bahkan di dunia pun sungguh mengerikan dan perasaan apa yang akan terungkap dari diri kita, jika hal itu terjadi.  Naudzubillah!!
Bayangkan bagaimana Allah murka kepada makhluk bernama Fir’aun karena kesombongannya, maka ia ditenggelamkan di Laut Merah  dan mummi Fir’aun menjadi salah satu bukti kemurkaan Allah pada sikap yang IA benci terutama sikap angkuh menyatakan dirinya penguasa dari segala penguasa.

3.      Mohon Anugerah Taufik,  membaca ayat2 Nya
Melaksanakan ibadah shaum satu bulan penuh dengan kesehatan yang prima dan persiapan jiwa yang sempurna tidak mungkin terealisir berkat anugerah kekuatan dari Nya.
Mohon taufik dari Nya khusus berkaitan dengan tadarus dan tadabbur AlQur’an.

Jika mengingat kata Taufiq, 

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, ulama'besar abad ke VIII H, bahwa taufiq itu ialah iradat Allah yang datang dari-Nya sendiri terhadap hambanya untuk melakukan yang baik, diberinya kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang diridhoi-Nya, didorong oleh kecintaan kepada-Nya.  


Ramadhan adalah momen terpenting dalam satu tahun berkomunikasi lewat bacaan – bacaan indah, bersama Al Qur’an, dengan demikian kemu’jizatan nya secara perlahan menampakkan jati dirinya (al – Qur’an) khusus di bulan Ramadhan.


**Diktat Ramadhan.  Rumah Al Qur’an dan  Hadis  Al Musthafa.  Jakarta : 1432 H / 2011 M  

***Jurnal Babussalam, edisi khusus Ramadhan 1423 H /  Nopember 2002 M




7 Jun 2015

Menyemai Benih Penulis Kompasiana Muda di Kbandung




Sejak 1 juni pukul 8 : 29  Teh Efi Fitriah yang imut – imut sudah bewara lewat komunitas Kbandung di FB akan ada acara Munggahan Kbandung yang Insya Allah  diselenggarakan pada 6 – 7 juni 2015 di  Pondok Pesantren Al Qur’an Babussalam,  dengan  dua acara, ba’da shubuh rencananya mau nyegat sang Mentari di Tebing Kraton, turun dari TekRa jam 10.00 – 12.00  blogshop dengan nara sumber Kang Pepih Nugraha yang kakoncara.





        ( picture KBandung,  milik Fajr Muchtar dan menuju Tebing Kraton, milik Wardah Fajri )


Suatu anugerah yang sangat kami syukuri bagi Kbandung ( Kompasianer Bandung ) atas usaha yang sungguh memberi banyak manfaatnya bagi semua yang hadir, menyusuri kampung Pasangrahan menuju Tebing Kraton di dampingi   Bang Aswi    dan dengan setia juga semangat Mbak Wawa  -   Wardah Fajri   ikut serta dalam rombongan kecil kami,  Mbak yang energik ini  sangat antusias ngambil picture kiri kanan semua jadi perhatian,  menyenangkan sekali menyaksikan semangatnya . . .   dia entah habis berapa rol jika pakai klise jaman baheula.

Hatur nuhun Bang Aswi, juga kedua puteri tercintanya sehingga hangat perjalanan rombongan kecil Kbandung,  juga hatur nuhun kepada Teh Efi Fitriah  juga Teh Tian    telah mewujudkan acara dengan menyenangkan, segerlah Teteh jika sempet barengan gabung.


Demikianpun Mbak Wardah Fajri sekeluarga, Subhanallah pemandangan indah sekali keluarganya turut serta juga, semoga menjadi investasi ibadah kelak atas kebaikan mendukung Kbandung dengan semangat membara.,  semoga sehat selalu ya.

Nah . . . kehadiran  Kang Pepih Nugraha kali ini benar – benar menjadi inspirasi bagi keluarga Kbandung dan khususnya keluarga Pondok Pesantren Al Qur’an Babussalam, karena seusai Blogshop,  kami yang hadir memiliki niat untuk kedepan semoga didukung oleh semua fihak yang terkait,  sehingga kami bisa memelihara semangat untuk selalu menulis dalam konteks ibadah dan pengembangan diri dalam hal kepenulisan dengan cara selalu berfikir positif sebagaimana yang disampaikan oleh Kang Pepih disiang itu.

Untuk review kegiatan,  semoga segera bisa di posting meskipun di beri toleransi satu bulan penuh bagi Kompasiana muda demikianpun bagi Kbandung yang menyusuri Tebing Kraton beserta pemandu  kocak Fxmuchtar  Abah Fajr.

 ya . . . kocaknya pisan ;  saat membawa kami ke rute yang tidak biasa sampai di Kampung Pasangrahan,  saya tanya : "Abah udah tahu jalan lewat sini ?"  penulis kira beliaunya mengetahui lintasan lewat kampung ini.  Dengan sangat tenang beliaunya menjawab :  "belum".  Semua yang beliau ajak tertawa heran dan aneh saja.  Ampuun . . . .

Mbak Wawa sendiri terlihat geli, tanpa komentar . . . .


Adapun lahirnya inspirasi yang tidak disangka – sangka sama sekali,  inilah  beberapa catatan yang  direkam pada  hari ahad,  7 Juni 2015  Insya Allah  poin yang muncul adalah  bentuk  pengkaderan kecil – kecilan dalam dunia kepenulisan di Kompasiana yang akan kami coba jalankan, yaitu :

1.        Pertemuan rutin  tentang cara penulisan, bagi blogger  
        pemula dan mencoba membuat akun di Kompasiana ;  pastinya mah bingung kalau    
        yang belum pernah ngeblog dan belum pernah menulis.

2.        Senior – senior KBandung turut serta menjadi sumber estafeta  inspirasi
bagi blogger pemula KBandung

3.         Saran Mbak Wawa yang tentunya mudah di realisasikan adalah  yunior – yunior    
   KBandung,   di add ke komunitas    KBandung

4.         Mbak Wardah Fajri akan selalu  mensupport Yunior KBandung jika 
butuh dukungan bahan – bahan untuk kegiatan  blogshop.

Mari kita dukung, menyemai bibit KBandung muda, sebagai lahan ibadah semua Kompasianers KBandung,  hayuuu . . . .  urang ngawangun,  menyebar virus positif ketrampilan menulis Teteh – teteh dan Akang – akang,  meskipun kita juga masih terus mengasah ketrampilan menorehkan pena canggih masa kini.

Salam dari Ciburial.
Ahad, 7 Juni 2015 M / 21 Sha’ban 1436 H

2 Jun 2015

Belajar Jadi Isteri #Membangun Keluarga



Semuanya sangatlah tidak mudah jika tidak mau belajar, dan perangkat belajar tidak hanya selalu dikaitkan dengan fasilitas serta kelengkapan sandang, pangan dan papan, bahkan yang paling utama saat kita memulai pembelajaran diri adalah tujuan dan kemudian niatkan !

Menjadi seorang istri tujuan utamanya dan sangat mendasar  adalah  “menghambakan diri pada – Nya” tidak ada tidak. 

Tujuan ini sedemikian kokoh, tidak perlu disangsikan,  apapun kendala – kendala yang terbentang dalam kehidupan berumah tangga itu seperti seseorang  masuk ke hutan belantara yang asing dan penuh lika – liku juga sama sekali tidak kenal medannya.

Maka ketika Allah kemudian memberi petunjuk kepada hamba Nya,  sesungguhnya banyak sekali tujuan membangun  kehidupan penghambaan diri kepada Nya,  ketika kemudian kita menjadi seorang istri otomatis bahwa membangun rumah tangga adalah demi mencapai   “ketenangan jiwa”  jika kemudian dalam rumah tangga hal yang terjadi sebaliknya, perlu saling mengevaluasi sikap dan tindakan masing – masing dengan cara yang terbuka.

Selanjutnya tidak semata membangun ketenangan jiwa,  demi melanjutkan estafeta kepemimpinan dan cita – cita seorang istri hendaknya  “menjadi Ibu dari putera dan puteri sholeh dan sholehah” QS. al’Araf (7) : 189  ;  perjuangan seorang istri  akan utama dan sempurna selanjutnya “membangun rasa kasih sayang”  QS. Ar Rum (30) : 21  dalam kehidupan berkeluarganya.

Tujuan – tujuan tersebut akan menjadi fondasi kokoh dan tangguh membangun kebahagiaan dunia dan akhirat.  


Siapakah Isteri

Jaman dahulu sekitar tahun 60 atau 70 an atau lebih mundur lagi, seorang isteri diimajinasikan seorang perempuan yang tinggal di rumah melayani suami siang malam sebagai pasangan hidupnya, mengasuh dan mendidik putera / puterinya, pandai memasak, menjahit, menyulam dan berbagai ketrampilan puteri sejenisnya.

Standar saat itu memang demikian,  pada era modern ini bagusnya sii . .  seorang istri memiliki skill tentang keputrian tetapi tidaklah mesti, tentu saja tuntutannya sudah kadaluarsa dan mesti di tingkatkan kepada hal yang lebih hakiki, terkait tujuan awal tadi.
Ketentuan seorang istri harus memiliki skill ketrampilan putri bisa juga di jadikan acuan,  maka dengan tuntutan jaman yang semakin menantang, seorang istri masa kini harus melek pendidikan.

Boleh pendidikan formal atau pendidikan non formal segalanya untuk mempermudah dan memperingan tugas – tugasnya disaat membangun biduk rumah tangga dan menjadi mitra harmonis pasangannya.

Apakah Tugas Isteri dan Wilayah Domestik

Idealnya seorang istri bertugas di wilayah domestik ( membacanya terkesan “melecehkan” seorang perempuan ) ; akan tetapi segala sesuatunya kembali pada masing – masing pasangan bersepakat menentukan lifestyle dalam membangun rumah tangga. 

Saat ini semua sedemikian terbuka cara, komunikasi, budaya banyak kemudahan yang bisa kita akses, inti utamanya bagaimana seorang istri bertindak bukan sekedar mitra dalam kehidupan sementara akan tetapi juga menjadi  mitra kehidupan yang abadi.


Peran Isteri dalam Keluarga
Jika dilihat dari tujuan awal pembangunan rumah tangga, yaitu :
 
  • Menghambakan diri pada – Nya 
  • Membangun ketenangan jiwa 
  • Menjadi Ibu dari putera dan puteri sholeh dan sholehah 
  • Membangun rasa kasih sayang  dalam keluarga 

Istri dalam rumah tangga menjadi tokoh utama, tentu saja secara teori penjadi pemeran utama atau tokoh sentral tugasnya cukup berat dan signifikan,  mau apa lagi jika memang tujuan – nya telah dipancangkan demikian.

Meskipun tulisan ini sifatnya umum dan masih sangat abstrak, gersang dari implementasinya sebagai intro mudah – mudahan pembuka jalan untuk  Komunitas Keluarga Kompasianer.



Selasa, 02 Juni 2015 M  /  16 Sya'ban 1436  M
Pamulang - Tangsel